Religion

Potensi Radikalisme di Indonesia

Irjen. Pol. Drs. Hamidin

Jalur9.News, Gowa- Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan, Prof. Arfin Hamid mengajak guru agama dari semua tingkatan di Sulsel untuk senantiasa mengawal kebijakan pembubaran organisasi Hizbut Tahrir (HTI), sebab kelompok ini dinilai mengancam keutuhan NKRI dan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan, saat Prof Arfin menyampaikan sambutan acara “harmoni dari sekolah” Integrasi Nilai-Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Haromoni Kebangsaan di Padivalley Golf Club Pattalassan, Kabupaten Gowa, Rabu, 28 Agustus 2019.

Selain itu, mantan Sekretari NU Sulsel ini, meminta partisipasi masyarakat untuk tidak segan-segan melaporkan kepada pihak berwajib dan FKPT jika  mendapati ceramah yang mengumbar kebencian, menthogutkan pemerintah, mengharamkan Pancasila, serta suka mengkafirkan kelompok yang tidak sepaham dengannya.

“Jika mendapati demikian, mohon partisipasinya untuk melaporkan kepada FKPT Sulawesi Selatan atau ke Pihak berwajib seperti kepolisian,” kata Prof. Arfin di depan ratusan guru-guru agama dari berbagai tingkatan.

Tak hanya itu, guru besar di bidang hukum ini juga memaparkan hasil penelitian FKPT Sulsel. Ia mengatakan, dalam lima tahun terakhir pertumbuhan paham radikal-teroris di Sulsel terus mengalami penurunan. Makanya itu, ia pun menggaransi, bahwa semakin banyak masyarakat mengikuti kegiatan FKPT, maka potensi keterpaparan radikalisme dan terorisme semakin kecil.

Sementara itu, Kapolda Sulsel Irjen. Pol. Drs. Hamidin dalam materinya menyampaikan kerentanan Indonesia terhadap penyusupan paham radikalisme dan terorisme. Ia mengatakan, setidaknya ada 92 pintu masuk teroris di Indonesia dan delapan diantaranya yang berbatasan langsung dengan Negara lain.

Lebih lanjut, mantan Deputi Kerjasama Internasional BNPT ini juga menyampaikan bahwa setidaknya masih ada 52 perempuan Indonesia di camp Suriah yang masih tertahan untuk pulang. Menurutnya, calon deportan ini harus menjadi perhatian bersama, khususnya BNPT dan FKPT sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam penanggulangan terorisme di Indonesia.

“Sementara bom bunuh diri yang terjadi di Philipina, tepatnya di Korazan dilakukan oleh dua orang warga Gowa. Mereka adalah deportan yang berasal dari Turki,” katanya lagi.

Meski demikian, lanjut Hamidin, penenganan terorisme dengan menggunakan pendekatan lunak, dianggap dunia sebagai pendekatan yang paling efektif, hingga negara Kazastan meminta diajari cara penanggulangan teroris lewat BNPT.

Most Popular

To Top