Fashion

Euforia Kemerdekaan

Kemerdekaan

Euforia Kemerdekaan

Euforia Kemerdekaan

Jelang perayaan 17 Agustus, suasana lorong-lorong di kota Makassar mendadak berubah. Jalan setapak, pagar, pot bunga hingga pemukiman warga mendadak berubah warna, merah-putih. Warna yang sudah telanjur menjadi kesepakatan guna mengekspresikan sukacita mereka tentang kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, suasana lorong juga akan tampak semakin hidup saat berbagai jenis olahraga diperlombakan. Sepak bola antarlorong, tarik tambang, balap karung, lomba makan kerupuk, adalah jenis olahraga yang tak pernah absen diperlombakan. Bahkan beberapa tahun belakangan, pertandingan sepakbola mengenakan daster bagi pria yang sudah berkeluarga pun makin banyak mengundang perhatian. Pasalnya, pertandingan ini tidak hanya terlihat unik, tapi juga lucu.

Apapun nama dan bentuknya, yang jelas seperti itulah ekspresi sukacita sebagian warga Makassar dalam memperingati hari kemerdekaan. Paling tidak, perlombaan yang sekaligus menjadi hiburan itu, sejenak membuat mereka lupa akan persoalan hidup mereka. Baginya, kemerdekaan adalah kegembiraan yang harus dirayakan. Alasannya sederhana, mereka bisa tertawa dengan riang karena bangsa ini tidak lagi dijajah oleh bangsa luar.

Meski pada kenyataannya, mereka juga sadar bahwasanya usai perayaan tahunan itu, lorong-lorong mereka akan kembali sepi, suara riuh dan gelak tawa tak lagi terdengar. Kehidupan mereka akan kembali seperti semula, khawatir dengan kelangkaan gas elpiji, kenaikan harga BBM, sembako serta sejumlah persoalan sosial lainnya yang mereka tidak diketahui secara pasti penyebabnya.

Olehnya karenanya, mungkin tidak berlebihan jika dikatakan, rakyat kita masih sebatas merayakan kemerdekaan, namun belum menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Kegembiraan saat perayaan 17 Agustus itu hanya sekadar euforia di tengah kesulitan hidup mereka. Cita-cita luhur Bung Karno yang menginginkan rakyat bangsa ini merdeka secara politik, ekonomi serta berkepribadian sesuai dengan budaya bangsa sendiri tampaknya masih jauh dari kenyataan.

Kemiskinan, ketidakadilan dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu masih tetap terjadi. Bahkan belakangan ini, semangat kekitaan perlahan-lahan mulai memudar, tergantikan oleh semangat komunalisme berbasis etnik dan agama. Hal itu tidak hanya terlihat pada pola relasi sosial kita, tapi juga telah merambah, bahkan menjadi bagian dari strategi politik.

Olehnya itu, tidak mengherankan jika perhelatan politik beberapa tahun belakangan ini tak hanya sarat dengan isu-isu primordial dan sektarianime, tapi juga isu agama. Kata-kata kafir, munafiq dan musyrik, meski telah berabad-abad diwacanakan dalam kajian keagamaan, tampak masih tetap aktual, tak terkecuali dalam dunia politik.

Ironisnya, kata-kata itu kerap menjadi stigma yang dialamatkan kepada saudara kita, sesama anak bangsa yang kebetulan berbeda pilihan. Akibatnya, mereka pun menjadi tidak merdeka dalam menentukan hak pilihannya. Sejauh ini, harapan Bung Karno yang menginginkan bangsa ini merdeka secara politik tampaknya masih hanya sekadar slogan yang tak kunjung menuai harapan.

Kepentingan yang mengatasnamakan agama, etnis dan kelompok masih sangat kuat mendominasi ruang-ruang sosial dan mengakibatkan kelompok lain tersingkir dan kehilangan hak. Jika kita meyakini bahwa kemerdekaan bangsa ini adalah karunia atau rahmat Allah SWT, maka sejatinya ia harus menjadi milik semua serta menjadi penyejuk jiwa bagi masing-masing anak bangsa.

Olehnya itu, cita-cita luhur Bung Karno di atas, hanya mungkin bisa diwujudkan jika jiwa anak bangsa ini terlebih dahulu dimerdekakan, karena kemerdekaan yang sesungguhnya hanya bisa diketemukan pada diri setiap anak bangsa yang jiwanya merdeka. Jiwa yang merdeka adalah yang jiwa tenang, jiwa tidak hanya mampu menerima perbedaan dengan tulus, tapi juga bersedia berkorban demi kepentingan bangsa dan kemanusiaan. Pendek kata, jiwa merdeka adalah jiwa yang sadar akan realitas kehidupan bangsa yang sesungguhnya.

Penulis: Suaib Amin Prawono
(Presidium Gusdurian Sulawesi)

Most Popular

To Top