Religion

Iko-iko; Senandung Damai Kearifan Lokal Suku Bajo

Suku Bajo
Suku Bajo

Jalur9.news, Makassar- Suku Bajo dikenal sebagai suku petualang. Corak kehidupan yang identik dengan laut membuat mereka dikenal sebagai pelaut nomad dan tersebar di berbagai kepulauan nusantara. Abu Muslim dalam makalah penelitiannya menyebutkan, kemungkinan besar Suku Bajo berasal dari Zulu (Filipina), Johor (Malaysia) dan daerah Sabah, Kalimantan Utara (Malaysia). Dugaan tersebut didasarkan pada pendapat salah seorang sejarawan terkemuka, yaitu; A.B Lapian.

Pandangan lain yang dikemukakan oleh sejarawan Eropa, Dick Read. Ia menghubungkan suku Bajo dengan bangsa pelaut lain seperti Bugis, Makassar dan Mandar di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga suku Bajo ini diduga kuat berasal dari Sulawesi.

Dugaan tersebut, kata Muslim diperkuat dengan adanya tradisi lisan di Sulawesi yang menyebutkan bahwa ada empat versi asal-usul suku Bajo, yakni versi Jampea, Kayuadi, Appa’tana dan versi tulisan lontara Ara. Ketiga versi pertama menyebutkan bahwa suku Bajo berada dalam wilayah Kabupaten Selayar, sementara versi keempat  menyebutkan di Ara, Kabupaten Bulukumba.

“Meski demikian, pada intinya keempat versi tersebut menghubungkan orang-orang Bajo dengan mitologi Sawerigading dari tanah Luwu,” jelas Abu Muslim saat menjadi pemakalah dalam Kegiatan Pra Seminar “Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Bidang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (Balitbang) Makassar, di Novotel, Kamis, 8 Agustus 2019.

Tak hanya itu, dalam pemaparannya, Abu Muslim juga menyampaikan bahwasanya suku Bajo kerapkali mendapat stigma yang kurang menguntungkan. Stereotype sebagai perompak, bajak laut, hingga perusak ekosistem laut dengan menggunakan bom dan bius kerapkali dilekatkan kepada mereka.  Hal itu semakin diperparah dengan hadirnya konstruksi identitas yang menyebutkan bahwa budaya dan peradaban orang-orang darat jauh lebih unggul ketimbang budaya orang-orang Bajo, sebagai suku laut.

Tak hanya itu, lanjut Muslim, stereotype sebagai suku tertinggal, masyarakat tradisional, tak pendidikan serta pernah terlibat dalam menyokong gerakan DI/TII juga kerapkali mereka alami. Meski hal itu tidak diinginkan, tampaknya mereka tak punya kuasa melawan stigma tersebut, kecuali hanya bisa pasrah pada keadaan.

Namun demikian, seiring perjalanan waktu, kata Muslim, suku Bajo perlahan-lahan mulai sadar akan keadaannya. Mereka pun mulai terbuka dan berinteraksi dengan  masyarakat di luar komunitas mereka. Penjara identitas berbungkus stereotype itu, kini perlahan-lahan mulai dikikis melalui ranah pendidikan, sosial dan ekonomi. 

“Orang Bajo saat ini mulai sadar betapa pentingnya anak-anak mereka mengenyam pendidikan, guna memutus mata rantai kebodohan yang selama ini membelenggu kehidupan mereka,” jelas Abu Muslim.

Agama dan Kearifan Lokal

Berdasarkan hasil penelitian lapangan, Abu Muslim menemukan bahwasanya suku Bajo seratus persen beragama Islam dengan corak paham keagamaan ahlussunnah wal jamaah. Manifestasi keislaman suku Bajo itu tertuang dalam lontara assalenna Bajo berbunyi; Naiyya sininna pappujie, koi ri puwang Allahu Taalaa, engrengngE ri suroona Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallama.  (Segala puji bagi Allah Yang Maha Tinggi dan Rasul-Nya Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam).

Kampung Bajo MolaWakatobi

Demi menghargai kepercayaan atau agama yang dianut oleh orang-orang darat, suku Bajo memilih tidak menyebarkan agama yang diyakininya. Karakter keberislaman mereka lebih ke hal-hal yang sifatnya praksis, yaitu mengedepankan sikap dan perilaku sopan-santun.

Sikap dan perilaku ini sekaligus menjadi modal sosial mereka dalam berinteraksi. Sehingga mereka pun dikenal sebagai komunitas yang terbuka serta mudah beradaptasi dengan orang-orang luar.

Makanya itu, tidak mengherankan, jika suku ini dikenal sangat fasih berbahasa Bugis, Buton, Keledupa. “Di mana langit dijunjung, di situ bumi di pijak” filosofi hidup itulah yang mendasari pola hidup mereka, sehingga dikenal sebagai suku yang terbuka dan anti kekerasan.

Mereka berkelana tanpa membawa senjata tajam. Jika kebetulan berhadapan dengan sesuatu yang tidak diinginkan, mereka lebih memilih menghindar, atau paling tidak lebih banyak menahan diri.  Perilaku hidup seperti ini, oleh suku Bajo adalah bagian dari implementasi ajaran Iko-iko, sebuah kearifan lokal yang sudah lama mengakar dalam tradisi kehidupan mereka.

Menurut Muslim, Iko-iko, selain sarat dengan nilai-nilai teologis, juga moralitas dan kepedulian terhadap sesama manusia yang bertujuan menceritakan peristiwa penting di masa lalu, saat suku Bajo belum mengenal tulisan. Peristiwa tersebut sengaja diceritakan secara berulang dan turun temurun agar generasi mereka tidak lupa sejarah.  

Iko-iko adalah genre sastra lisan yang sarat dengan nuansa pengetahuan. Di dalamnya terdapat kisah-kisah heroik, hukum adat, kehidupan sosial, dan pesan-pesan moral,” kata Muslim.

Lebih lanjut, Muslim menjelaskan, iko-iko adalah epos yang dinyanyikan dengan teknik acapella, dihafal oleh satu penyanyi, pria atu wanita, dinyanyikan dalam bentuk prosa; frasa berirama kemudian dikelompokkan ke dalam ayat-ayat dan dipisahkan oleh vokal panjang dan sarat dengan keindahan.

Muslim menjelaskan, bagian terpenting dari iko-iko adalah membangun keseimbangan  antara pengamalan adat dan agama yang bertumpu pada penghargaan terhadap sesama, baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai hamba Tuhan Yang Esa. Hal itu terlihat pada interpretasi makna jabat tangan (siala tangang) yang kerap dilantunkan dalam iko-iko.

Bagi suku Bajo, siala tangang adalah simbol persaudaraan, perdamaian, sekaligus keseimbangan hidup. Siala tangang adalah bagian dari konsep moderasi hidup suku Bajo yang sudah imanen dalam hati masyarakatnya. Sebagaimana bunyi iko-iko;

Sabbar dikariman ele Allah Taala baka Nabi Muhammad. Kesabaran dalam pengertian mengendalikan diri akan disayang Tuhan dan nabi Muhammad.  
Situluh, Sipagenne, Sipalele. Menyebarluaskan rasa simpatik.  
Sikarimanang menyebarkan rasa sayang.

Pesan yang terdapat dalam iko-iko ini, kata Muslim, sekaligus menjadi cerminan sikap dan perilaku keagamaan suku Bajo, termasuk menghargai paham dan keyakinan orang lain.  Singkatnya, Iko-iko bermakna senandung damai dari kearifan hidup suku Bajo, selain berfungsi sebagai edukasi moral, juga menjadi pelipur lara saat nestapa hadir dalam relung kehidupan masyarakat suku Bajo.

Most Popular

To Top