Religion

Milk al-Yamin; Tragedi Disertasi Abdul Asiz dan Kemalangan Cinta Minke dengan Annelies

“Seorang terpelajar seharusnya adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatannya”(Ucapan Jean Marais terhadap Minke dalam Bumi Manusia Karya Pram

Seorang terpelajar seharusnya adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatannya”(Ucapan Jean Marais terhadap Minkedalam Bumi Manusia Karya Pram)

Betullah apa yang dikhawatirkan oleh Nyai Ontosoroh. Dalam pengadilan putih yang terhormat tersebut, hubungan antara Minke dengan Annelies disinggung oleh Hakim. Meski tak jelas juntrungannya, hubungan itu menjadi bahan perbincangan dan ejekan dalam pengadilan putih tersebut. Mula-mula Minke ditanyakan di kamar mana ia tidur? Apakah sudah lama ia tidur sekamar dengan Annelies? Lalu ruangan sidang itu pun mengaung laksana ratusan lebah dengan kata cacian, ejekan dan hinaan pada Minke dan Annelies.

Mendengar itu Nyai Otosoroh lantas menegakkan dadanya, dengan mata yang tajam ia menatap pada Hakim dalam pengadilan yang terhormat itu. Kemudian dengan segala keberanian Ia melontarkan pernyataan yang tajam.  Mengapa sidang yang terhormat tiba-tiba mengusik hubungan Minke dan Annelies? Mengapa hubungan mereka yang dilandasi oleh cinta yang sama-sama tulus, dipersoalkan, diejek dan dicaci?

Tarulah mereka telah melabrak etika kepantasan, bahkan ajaran agama, tetapi mengapa tidak ada satu pun yang pernah mempersoalkan ketika Tuan Mellema, mengambil dirinya (Nyai Ontosoroh) sebagai gundik? Menjadikan dia sebagai Nyai tanpa melalui perkawinan yang sah? Mengapa semua bungkam saat kaum kolonial yang dianggap paling beradab itu menjadikan perempuan-perempuan pribumi sebagai gundik, tanpa kejelasan hak,bahkan diperlakukan sewenang-wenang nyaris seperti pembantu?

Dalam persidangan itu,  Nyai Ontosoroh seolah-olah sedang menampar muka kaum kolonial dan orang-orang yang merasa dirinya sebagai penjaga moral dan paling beradab.  Nyai Ontosoroh seakan sedang memajang cermin di hadapan mereka. Memperlihatkan siapa sesungguhnya orang-orang yang merasa beradab itu. Dalam sidang itu pula Nyai Ontosoroh telah melakukan perlawanan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, sebagai seorang Nyai, gundik dan sebagai seorang perempuan pribumi. 

Seakan mengulang peristiwa yang terjadi dalam kisah Bumi Manusia itu, kasus disertasi Abdul Azis soal milkal-yamin, menunjukkan hal yang serupa. Bukan semata karena milkal-yaminadalahkonsep hubungan seksual di luar pernikahan,  seperti yang dilakukan Minke dan Annelies, tetapi persis ketika disertasi ituterbit, orang-orang yang merasa dirinya suci dan paling bermoral bermunculan.

Tentu saya tidak memaksudkan itu kepada para alim-ulama yang menanggapinya secara serius, dingin dan melalui kajian akademik-keagamaan.Tetapi hal ini ditujukan pada  orang-orang yang menanggapi disertasi itu dengan penuh kebencian dan kemarahan, tanpa sedikitpun memahami atau membaca konsep Syahrour soal milkal-yamin, atau minimal membaca disertasi Abdul Azis.

Tetibasaja muncul orang-orang yang seakan menjadi penjaga moral dan pelindung nilai-nilai agung. Lantas dengan lantangnya menghujat Abdul Asiz, mencaci kampus UIN Sunan Kalijaga bahkan meneror keluarga Asiz; Abdul Azis disebut ‘duta mesum’, ada pula yang menyuruh untuk mendatangi anak perempuan Abdul Azis dan melakukan perbuatan mesum dengannya.

Namun kemana orang-orang ini ketika muncul berita beberapa TKW (Tenaga Kerja Wanita)  di Timur Tengah diperlakukan tidak senonoh oleh majikannya hanya karena mereka dianggap budak? Di sini Saya ingin mengulang gugatan-gugatan Nyai Ontosoroh, dengan kalimat yang berbeda;

“Disertasi Abdul Azis kita caci, padahal itu hanyalah karya akademik yang mungkin menjadi cermin dari banyak kasus di Indonesia.  Taruhlah Abdul Azis salah karena tidak mempertimbangkan akibatnya terhadap moral di masyarakat, tetapi mengapa kita bungkam ketika para TKW di Timur Tengah itu dijadikan gundik oleh majikannya?” Bukankah mereka juga tidak pernah dinikahi secara sah. Ketika di antara TKW itu ada yang harus membunuh majikannya demi mempertahankan kehormatannya, mengapa kita tidak heboh membela TKW tersebut, sebagaimana nyaringnya kita menggugat disertasiAbdul Azis?” 

“Mengapa pulakita yang merasa orang terhormat ini, hanya membisu, ketika menyaksikan atau mendengar orang-orang kaya menikahi istri kedua, ketiga dan keempat, dan mungkin di antaranya ada yang di bawah umur?” Menikahinya di bawah tangan pula! Bukankah para orang kaya itu sedang tidak ingin membangun keluarga? Mereka semata hanya ingin menyalurkan hubungan seksualitasnya saja. Toh…orang-orang kaya tidak merasa perlu menjamin hak-hak istri keduanya, ketiganya dan apalagi anak-anaknya kelak, dengan mengawini istri-istrinya itu secara sah.

Dalam kasus Disertasi Asiz yang membicarakan milkal-yamin itu kita begitu garang. Tetapi kita sunyi membisu dalam kasus-kasus lain, yang boleh jadi juga merendahkan derajat perempuan.  Seperti halnya Kasus cinta Minke dan Annelies yang telah membuka kedok hipokritnya kaum kolonial dan orang-orang beradab, disertasi Abdul Azis pun telah menelanjangisaya&mungkin kita semua. 

Saya sangat mungkin tidak setuju dengan konsep milkal-yamin dalam disertasi Abdul Asiz tersebut, tetapi saya juga tidak akan pernah menyalahkan kerja-kerja akademiknya yang telah dilakukan dengan susah payah. Sudah barang tentu saya pun tidak akan menghujatnya, sebab saya sadar diri, saya bukanlah orang yang suci yang pantas menjadi penjaga moral.

Saya boleh tidak setuju dengan disertasi itu, sebagaimana saya menyayangkan Annelies dan Minke yang hidup bersama tanpa ikatan perkawinan. Tetapi jika hanya karena disertasi itu, seorang Abdul Azis dihinakan dan diteror, saya akan mendukungnya. Sehormat-hormat dan sebaik-baik dukungan, kendati dukungan itu hanyalah dukungan moril. Mungkin seperti dukungan Jean Marais pada Minke dalam Bumi Manusianya Pram (sedikit saya tambah redaksinya): “Cinta (pengetahuan)  itu indah, Minke (Azis), juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.”

Andaikan saya punya pemahaman yang mendalam atas konsep milkal-yamin dari  Syahrour itu, saya akan melawan disertasi Abdul Azis itu dengan cara sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya, yaitu melalui tulisan pula.  Begitulah seharusnya kita menghargai pengetahuan, setuju atau tidak terhadapnya.

Penulis: Syamsurijal Ad’han
Ketua LTNU Sulsel

Most Popular

To Top