Religion

Ruang yang Perlu Disentuh Kader PMII Milenial

3

Akhir-akhir ini, di tengah kompleksitas persoalan bangsa, jarang terdengar lagi diskusi-diskusi PMII tentang persoalan mengenai kondisi buruh dan tani; terkhusus membahas masalah PHK, eksploitasi tenaga kerja buruh, penguasaan lahan serta penggusuran dan perampasan lahan yang masih sering terjadi dan banyak mengorbankan rakyat lemah. Sementara persolan itu adalah masalah yang bersentuhan langsung dengan kenyataan hidup masyarakat kita.

Tanpa mengabaikan isu-isu besar yang begitu masif diperbincangkan dalam ruang-ruang diskusi dan seminar-seminar, seperti halnya agama, negara dan budaya yang juga penting untuk dipahami guna memperkuat pemahaman kebangsaan kader. Namun, memfokuskan perhatian pada isu itu semata tanpa mendiskusikan dan memikirkan masalah spesifik seperti kondisi buruh dan tani serta persoalan ketimpangan struktural lainnya justru akan menciptakan jarak yang terpisah antara kader PMII dengan rakyat, khusunya yang berprofesi sebagai buruh dan tani.

Harusnya gerakan sosial kader PMII inheren dengan semua itu, karena hal ini menyangkut tentang keberpihakan pada kaum mustad’afin. Alhasil, gerakan mahasiswa terkait kelompok buruh dan tani sering kali terabaikan. PMII jarang terlibat di dalamnya sebagai perwakilan kelompok mahasiswa nahdlyin yang pro terhadap keadilan.

Di lain sisi, tidak jarang pula adanya stigmatisasi oleh segelintir orang terhadap gerakan buruh dan tani yang dianggap sebagai gerakan kiri, sehingga seringkali PMII absen dalam keterlibatannya bersolidaritas. Kekeliruan itu perlu kembali dipikirkan, mengingat jarak antara kader PMII dengan buruh dan tani sudah tampak terlihat di permukaan, dan perlu dipersatukan kembali. Apalgi kader PMII juga sebagian besarnya berasal dari latar belakang keluarga buruh dan tani.

Selain alasan diatas, ada alasan strategis lainnya yaitu, tentang bagaimana membangun ekspansi gerakan kepada kelompok rentan mendapatkan perlakuan diskriminasi. Kurangnya perhatian kepada mereka akan mendapatkan dampak yang serius, mengingat praktik ideologisasi transnasional konservatif mulai tumbuh di akar rumput dengan varian gerakannya.

Selain tuntutan moral, pendekatan spesifik untuk merebut perhatian buruh dan tani penting selain pendekatan universal tentang keagamaan dan kebudayaan, sehinga kita tidak kehilangan basis di wilayah kelompok lemah. Inklusifitas PMII perlu diperlebar lagi, karena PMII adalah generasi penerus Nahliyin yang punya tanggung jawab besar untuk mengurus agama, bangsa dan masyarakat.

Melanjutkan perjuangan kaum Nahliyin yang sementara terus dipegang teguh oleh ulama, akademisi, intelektual dan aktivis di generasi tua kita. Menghadirkan berbagai isu-isu kongkrit spesifik yang nyata di masyarakat seperti buruh dan tani dan isu kongkrit lainnya dalam aktivitas keilmuan dan gerakan kader sangat perlu agar PMII selalu hadir membela kepentingan kaum mustad’afin.

Ada banyak isu yang terlewati oleh sikap PMII hari-hari ini yang sesungguhnya cukup penting. Ketidakhadiran kader PMII dalam hal ini tentu dikarenakan proses keilmuan jarang menyentuh masalah spesifik itu. Kita bisa melihat bagaimana keterlibatan PMII dalam menyikapi konflik agraria dan masalah perburuhan, begitupun masalah struktural lainnya seperti kebijakan pemerintah terkait RUU pertanahan, RUU minerba, RUU ketenagakerjaan, dan lain sebagainya yang begitu penting namun sering kali absen dibicarakan.

Pluralitas keilmuan kader PMII dan keanekaragaman isu yang dibahas dalam arena diskusi dan kajian kader PMII sangat strategis, sehingga tidak ada ruang yang kosong dalam menyikapi problem sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat kita.

Penulis: Abu Kapota
(Kader PMII Metro Makassar)

Most Popular

To Top